Meditasi di Pura Gunung Salak




Hening, sejuk dan cuaca yang cerah menjadi awal yang indah untuk memulai pagi.

Kali ini kami berpetualang ke desa Ciapus, tepat di kaki Gunung Salak Bogor. Mencari suasana sejuk yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, di kesempatan ini aku ditemani Karina berangkat naik commuterline dari stasiun Cawang menuju Bogor.


Perjalanan lancar dan sampai di stasiun Bogor mendadak perut terasa lapar, mungkin karena aura jajanan sekitar stasiun yang menggoda. Akhirnya kita memutuskan untuk makan toge goreng  di tengah pilihan sotomie, ketoprak, siomay, nyemmm enak semua.


Setelah perut cukup terisi, perjalanan dimulai. Memilih angkot yang kearah kebun raya, turun di BTC (Bogor Trade Centre), dari situ lanjut lagi dengan angkot yang kearah Ciapus. Sempat mampir dulu ke BTC untuk persiapan perjalanan panjang berikutnya. Jarak dari BTC ke Ciapus ditempuh sekitar satu jam perjalanan santai tanpa macet.



Dari Ciapus kami diantar ke pura dengan ojek pangkalan (ga ada ojek online tampaknya di kaki gunung ini) melalui keindahan hamparan sawah dan siluet gunung yang gagah hingga akhirnya sampai tepat di pintu masuk Pura Parahyangan Agung Jagatkartta Tamansari Gunung Salak.



Pura Agung ini dibangun tahun 1995 sebagai tempat persembahyangan umat Hindu yang cukup banyak populasinya di sekitar Gunung Salak, mengingat dilokasi ini dianggap sebagai tempat Pakuan Pajajaran Sunda dibawah pemerintahan Prabu Siliwangi, raja hindu terakhir di Jawa Barat. Bahkan menurut mitos setempat, di lokasi pura ini Prabu Siliwangi moksa (menghilang) dan berubah wujud menjadi macan, sehingga di salah satu sudut paling dalam pura terdapat patung macan putih dan hitam yang menandakan petilasan Prabu Siliwangi.



Setelah dibangun di lahan seluas 3 hektar ini, Pura Agung Jagatkarta menjadi pura terbesar di Jawa Barat dan pura kedua terbesar di Indonesia setelah pura Besakih di Bali. Terdiri atas beberapa bangunan, yaitu Pura Padmesana, Balai Pasamuan Agung dan Mandala Utama.


Saat kami sampai disana, Pura Agung ini masih dalam tahap renovasi hingga akhir tahun 2016, sehingga ditutup untuk kalangan umum yang hanya ingin berkunjung atau berfoto di area depan. Namun bagi pengunjung yang punya tujuan untuk bersembahyang atau bermeditasi diperbolehkan masuk.


Di pintu masuk gapura setelah area parkir kami disambut oleh patung dewa Ganesha atau ditempat ini diberi nama Sanghyang Ganesha, yang merupakan anak dari dewa Shiwa dan dewi Parvati. Ganesha melambangkan kebijaksanaan dan kearifan yang digambarkan oleh sosok manusia bertangan banyak berkepala gajah.



Karena sudah sampai dan memang ingin merasakan suasana tenang dibawah kaki gunung, maka aku pun masuk dengan menggunakan selendang kuning (wajib pakai) ke area meditasi dalam pura. Dan takjubnya diriku melihat keindahan alam di depan mataku… Luar biasa indah..speechless…



 Aku merasa bukan ada di tempat ibadah.. khayalanku terbang ke jaman kejayaan kerajaan Padjajaran di masa lalu. Dimana terdapat candi yang menjadi tanda suatu kerajaan besar, putri-putri raja yang asyik bersolek untuk menari di pendopo istana. 




Hening, desau angin menggesek dedaunan, wangi rumput dan sayup sayup suara gamelan Bali terdengar membawaku pada ketenangan yang lebih dalam. Melatih nafas, menarik rasa damai, menjernihkan jiwa dari segala rasa buruk yang pernah singgah. 


Dari tempatku duduk terlihat satu bangunan tinggi yang dijaga oleh dua patung macan berwarna hitam dan putih, yang merupakan petilasan yang dibangun untuk menghormati Prabu Siliwangi



Tak terasa matahari pun semakin meninggi, sedangkan masih ada satu destinasi lagi yang akan kami datangi. Kami pamit pada Jero Mangku sebagai pendeta yang menjaga Pura Agung Jagatkarta Tamansari Gunung Salak ini. Siapapun akan merindukan tempat yang damai ini dan dalam hati kuberkeinginan untuk kembali kesini lagi.


Sampai ketemu lagi di perjalanan menyusuri indahnya negeri ini, di tempat yang lain, tempat yang pasti indah.. Stay wonderful Indonesia....

Relaxing in Jimmers Mountain Resort


Good morning Sunshine.....

Pagi yang indah di pegunungan. Hawa sejuk, saatnya mengisi paru-paru dengan oksigen sepuas-puasnya. Kali ini saya berkesempatan untuk beristirahat di tengah pekerjaan di satu resort yang letaknya tidak terlalu jauh dari jalan raya, tepatnya di sekitar Kopo, Ciawi.



Mengambil desain arsitektur dan eksterior seperti di Bali, resort bernama Jimmers Mountain Resort ini. meletakkan patung yang menjaga gerbang menuju kamar penginapan, dan beberapa patung lainnya yang berbentuk pemain musik. Sepertinya pemilik resort ini memang terinspirasi dengan ornamen pulau dewata yang dibawanya ke pegunungan.




Peserta rombongan ini terdiri dari anak-anak kelas 6 SDS TP Kencana Jakarta Pusat, guru-guru dan kepala sekolah serta para orangtua murid yang mendampingi. yang akan mengadakan acara malam perpisahan ini digagas oleh D'Sun Travel yang mengorganisir seluruh kegiatan mulai dari transportasi keberangkatan hingga akomodasi dan pembawa acara.




Fasilitas yang tersedia di Jimmers Resort ini cukup lengkap. Mulai dari kolam renang yang besar dan tidak terlalu dalam, cocok untuk anak-anak namun cukup luas untuk berolahraga. Flying fox dengan panjang hampir 30 meter dan ketinggian sekitar 6-7 meter. 




     

Sejak sampai hingga makan siang, anak-anak bebas bermain di taman yang luas dan kami pun merancang beragam permainan untuk dimainkan secara kelompok lengkap dengan hadiah games penggembira. Hingga akhirnya menjelang sore semua bersiap untuk acara perpisahan yang diadakan kemudian. 




Koordinasi dengan pihak resort sangat baik. Panggung dan sound system untuk acara pun disediakan sesuai permintaan plus pemain  organ tunggal yang disewa pun bisa beradaptasi dengan baik mengikuti kemauan pembawa acara.







Acara malam perpisahan berjalan sukses. Baik dari pihak sekolah, pengisi acara, orangtua murid dan penyelenggara boleh bernapas lega karena semua berjalan lancar. Wow.... selesai sudah acara bekerja hari ini.. Besok pagi giliranku untuk mengejar matahari pagi... Morning sunrise.....




Menikmati keindahan alam tak terpisahkan dari diri pribadi ku. Dan menunggu terbit atau terbenamnya matahari menjadi satu keindahan tersendiri yang tak pernah kulewatkan. Kadang tak kuindahkan waktu tidur yang hanya 2 atau 3 jam pada setiap trip hanya untuk mengejar matahari.


Thank you Adhe, for be with me while chasing the sun together. Kita selalu seru-seruan sendiri kalau mau hunting sunrise ya De... mau di laut atau di gunung... pokoknya ai lop yu pull deh.... Dan keseruan bareng menikmati alam Indonesia ini selalu kita share ke siapapun yang mau ikutan. Big Thanks untuk D'Sun Travel yang sudah membajak saya jadi MC di acara ini, hahaha.... So much fun for this journey with you guys..  See you next trip....







Blue Lagoon Bali, The Hidden Paradise


Breathtaking view? 
Yeah... pemandangan alam secantik ini tidak dengan mudah bisa dijumpai tanpa upaya yang cukup. Kali ini saya akan bercerita petualangan kecil selama beberapa jam di Bali.

Yess... Bali, Island of Gods.. Dan para dewa tentunya memilih tempat yang sangat indah untuk ditempati. Salah satu spot yang indah dan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata ini ada di Blue Lagoon, Padangbai, Karangasem.


Berangkat di pagi hari setelah menyempatkan diri untuk mengintip sunrise di Sanur Beach, Kami berangkat ke arah timur dari pulau dewata ini. Melewati beberapa kota hingga sampai di kabupaten Klungkung yang merupakan kawasan perbukitan untuk lanjut menuju ke Karangasem.



Matahari pun mulai menampakkan cahaya kehangatannya mengiringi perjalananku mengendarai motor jam 6.30 pagi di jalan yang lumayan sepi dan dingiiiiiin.... Perjalanan cukup jauh, seingatku dari papan penunjuk jalan yang terlihat di Denpasar, jaraknya sekitar 50 km menuju Karang Asem.


Melewati jembatan panjang, aku pun tak melewatkan momen saat matahari mengintip diantara tiang penyangga jembatan dengan indahnya. 


Akhirnya setelah melalui perbukitan yang membuatku berulang-ulang menghela nafas penuh kekaguman, sampailah kami di Pelabuhan Padangbai, Karangasem. Belum terlalu ramai terlihat karena masih pagi. Di pelabuhan ini tersedia ferry atau fast boat yang akan mengantar para pelancong yang hendak lanjut ke Pulau Lombok.


Aku pun sempat melihat beberapa kios penyedia sarana untuk diving dan snorkeling trip di lokasi ini baru mulai buka. Langit tampak mulai cerah..hmmm... a perfect day for snorkeling...

Menuju ke Blue Lagoon kami melalui jalan yang menanjak dan menanjak lagi... hingga sampai di lokasi yang teduh dan tersembunyi di balik pepohonan.. The Hidden Paradise is here...




Hooooo... I really love this scenery... 
Dari atas bukit kami turun melalui tangga batu yang telah disediakan menuju ke pantai di bawah.
Berlokasi diantara dua gugusan karang besar, tampaklah kejernihan air yang berwarna biru muda ini memanggil-manggil diriku untuk turun ke laut.



Pasir yang lembut, pantai yang sepi, air laut yang biru jernih, sinar matahari yang berkilau dan siluet Gunung Agung di kejauhan menyajikan romantisme sebuah pantai yang masih perawan dan belum tersentuh banyak pengunjung.



Birunya laut menggodaku untuk turun dan berenang. Sambil menyiapkan jaket pelindung dan memakai alat snorkeling aku pun siap turun ke laut. Namun ternyata ombak di pagi hari masih sangatlah kencang dan arus airnya seperti berputar mengarah ke karang.



Lumayan melelahkan bermain dan bergulung-gulung dengan ombak di pantai nan cantik ini. Sayangnya waktu bermainku agak terbatas karena masih ada meeting menunggu di Seminyak. Time to go back to work...



Nggak pernah bosan dengan laut dan pantai... Apalagi Bali yang penuh dengan nuansa romantis dan misteri. Keep on travelling with me guys, explore Indonesia more and more...See you next trip













Diberdayakan oleh Blogger.

viewers

Recent

Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *