Sunrise at Purwosari Hill, Magelang



Sunrise adalah salah satu yang menjadi tujuan di saat aku bepergian, selain pemandangan alam dan sunset tentunya. 

Sunrise Hunting kali ini kulakukan sehari setelah kepergianku ke Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.  Ternyata untuk mengejar matahari terbit, semua mengarah ke seputar Borobudur. Yang terkenal adalah bukit Punthuk Setumbu,dimana bisa mengambil matahari terbit dari balik candi Borobudur. 


Namun kami ditunjukkan ke satu tempat lagi, yang tidak sepopuler lokasi pertama, yaitu bertempat di bukit Purwosari, Kembang Limus.  Dan kami tidak salah pilih. Lokasi pendakian memang lebih terjal dibanding yang Punthuk Setumbu, namun spot yang didapatkan... Subhanallah.. Luar biasa indah. 




Kami sampai di lokasi sekitar jam 4 pagi, bahkan adzan subuh pun belum berkumandang. Tampak warna kemerahan fajar mulai merona dari balik Gunung Merapi. Kemudian perlahan sang surya pun memperlihatkan cahayanya.. 






Matahari terbit diantara dua gunung, Merapi dan Merbabu. Kameraku menangkap gambar yang mengingatkan diriku pada lukisan anak sekolah dasar jaman aku sekolah dulu...





Puas rasanya memandangi keindahan alam yang tidak kudapati setiap hari. This is the best spot so far... Best sunrise ever.. Sampai posting terakhir ini aku belum dapati hasil foto sunrise ku yang bisa menandingi keindahan terbitnya matahari keemasan diantara dua gunung.. Tak henti aku mensyukuri lukisan karya sang maha pencipta.. Amazing...



Dari puncak bukit Purwosari ini kami bisa melihat Gereja Ayam, yaitu suatu bangunan dengan atap yang berbentuk seperti jengger ayam. Dan bangunan ini memang digunakan untuk beribadah bagi umat nasrani di lingkungan sekitar.




Ini baru satu daerah, baru satu deret pegunungan yang kulihat.. bayangkan negeri dengan begitu banyaknya pegunungan yang berjajar dari ujung Sabang hingga Merauke.. membuatku berpikir, cukupkah waktuku untuk menikmati keindahan negeri ini?




Keep amaze with me guys... Lets explore Indonesia more...
See you next trip....

Ullen Sentalu, Menggali Sejarah Tanah Jawa




Seharian berada di kawasan Gunung Merapi, Kaliurang, Yogyakarta. Tentunya tak lupa kami menjejakkan kaki di Museum Ullen Sentalu. Sebuah museum yang berisikan segala mengenai seni dan budaya Jawa. Sejak dari masa Mataram Kuno hingga Yogyakarta saat ini,



Berlokasi di Taman Kaswargan, sengaja dipilih tempat yang tinggi di lereng gunung Merapi karena sifat gunung yang memiliki nilai mistik menurut filosofi Jawa. Nama "ullen sentalu" sendiri diambil dari nama Yayasan Ulating Blencong selaku pengelola museum yang mempunyai visi melestarikan kebudayaan jawa di masa lalu yang luhur.




Museum ini terdiri dari beberapa ruang eksibisi yang menampilkan dokumentasi kerajaan dan kebudayaan masyarakat Jawa tempo dulu dalam bentuk lukisan, koleksi batik lawas, corak pakaian, sketsa, bahkan foto-foto saat Yogyakarta masih dipimpin oleh Hamengku Buwono IX.




Lebih kurang satu jam kami menyusuri museum ini, dan di penghujung tour kami disediakan minuman dingin berupa teh sereh yang sangat menyegarkan. Setelah itu diberikan waktu bebas untuk berfoto di bagian luar museum, karena bagian dalam tidak diperkenankan mengambil gambar.


Perjalanan hari ini sangat memperkaya pengetahuan seni dan budaya kita. Tidak salah jika Yogya dikatakan kota budaya, mulai dari candi yang tersebar di beberapa tempat, museum yang lengkap dan guide yang memberikan penjelasan secara baik, hingga pantai yang indah bahkan tempat sisa bencana pun bisa dikemas menjadi satu budaya baru.

Masih belum bosan explore Yogya dan sekitarnya.. Tunggu cerita terbarunya ya. See you next trip

Pantai Indrayanti, Gunung Kidul Yogyakarta



Another beach trip. Kali ini kita throwback ke beberapa tahun yang lalu, ke sebuah pantai yang letaknya agak tersembunyi. Pantai itu bernama Pantai Indrayanti...mengingatkan pada seseorang. .nama itu.. hmmmm.......



Perjalanan dimulai dari pagi, setelah breakfast di hotel, yang dimasak sendiri oleh pemilik rumah yang sangat ramah, kami berangkat ke pantai di daerah Gunung Kidul, 2 jam perjalanan dari Yogyakarta. Melalui jalan yang panjang dan berliku, naik dan turun pegunungan, hingga akhirnya sampailah kami di lokasi pantai.




Sebelum sampai di Pantai Indrayanti ini, kami melewati beberapa pantai seperti Pantai Baron dan Pantai Krakal. Lamanya perjalanan yang ditempuh segera terbayar saat melihat pantai berpasir putih nan cantik ini. Wow... Luar biasa... 




Sulit rasanya menahan diri untuk segera berlaaarrii menuju air yang jernih. Ombak disini cukup banyak, walaupun tidak terlalu tinggi seperti di pantai Parangtritis. Mungkin karena disini cukup banyak karang yang memecah ombak sebelum sampai ke bibir pantai.




Seru kan main di pantai... Ga sangka di Yogya ada pantai sebersih ini. Tunggu apalagi? Buruan cari tiket murah ke Yogya dan explore pantai ini... Nantikan terus cerita kita explore pantai lain di sepanjang Gunung Kidul ini ya.... See you next trip...





Napak Tilas Batavia Era VOC


Warga Jakarta pasti tahu dong cikal bakal ibukota negara ini darimana. Yup.. Nama asli kota Batavia ini diberikan oleh orang Belanda yang menjadikannya sebagai kota sentra perdagangan bagi kongsi dagang mereka , VOC.

Nah, kali ini travelling momma terinspirasi untuk napak tilas Batavia era VOC. Seperti apa kota ini di masa lalu, dan apa peninggalan yang masih bisa dilihat saat ini. Masih banyak gedung tua yang dilestarikan, karenanya Jakarta punya Kota Tua yang terkenal dengan berbagai museum dan bangunan kunonya.



Diawali dengan menjejakan kaki di Kota Tua, tepat di depan gedung yang saat ini menjadi Kafe Batavia, terdapat tulisan yang menjelaskan fungsi gedung yang dulu sebagai Kantor Dagang di tahun 1884 dan berubah fungsi hingga sekarang sambil melintasi gedung-gedung dengan jendela khas masa itu.


Perjalanan pun dilanjutkan, sedikit ke barat dari Kota Tua, terdapat pusat perdagangan Pasar Pagi dan Asemka. Pasar ini masih berfungsi sama seperti dulu, sebagai jalur perdagangan yang sibuk. Yang membedakan hanya jenis barang yang dijual. Saat ini di Asemka terkenal dengan pusat pernak-pernik untuk pesta, perhiasan imitasi asal China juga peralatan sekolah yang murah meriah. 



Oh ya, sekedar mengingatkan, jangan lupa bawa uang cash yang cukup jika kesini. Cukup ya, jangan lebih. Karena biasanya ibu-ibu kalau sudah sampai sini mendadak kalap dan semua kepingin dibeli... Jadi bawa uang cash yang cukup sajaaaa...


Puas memanjakan mata dengan belanjaan pernak-pernik asesoris dan beragam goodie bag warna warni, perjalanan pun dilanjutkan lagi. Kali ini kami mampir ke Jembatan Tarik Kota Intan, atau dulunya dikenal dengan nama Jembatan Pasar Ayam. Yang unik dari jembatan ini adalah bisa diangkat keatas (karena itu disebut Jembatan Tarik), tujuannya agar dibawahnya dapat digunakan sebagai lalu lintas perahu.


Destinasi berikutnya, kantor VOC. Nah... ini dia kantor pusat perdagangan Batavia Tempo Doeloe. Saat ini kantor VOC ini dibuat menjadi restoran sekaligus disewakan sebagai tempat untuk pesta atau acara private lainnya.






Karena ini di resto, maka kami pun makan siang disini, dengan hiburan khas lagu lagu lawas akustik dari pemusik lokal yang disewa khusus oleh resto VOC ini. Disini juga bisa menuliskan nama kita dengan kaligrafi cina.



Well, sudah kenyang, perjalanan pun dilanjutkan. Kali ini destinasi terakhir adalah Pelabuhan Sunda Kelapa. Disini jantungnya perdagangan ibukota. Jika dulu penuh dengan kapal phinisi, sekarang pun masih ramai kapal yang bersandar..



Tak terasa perjalanan napak tilas jalur perdagangan era VOC pun selesai. Tepat terdengar bunyi adzan menunjukan waktu Ashar. Semua kota memang punya sejarahnya sendiri, tak terkecuali ibukota yang super sibuk dan serba modern di abad 21 ini.

Keep looking for adventurous journey in our country guys.. See you next fun trip...

Diberdayakan oleh Blogger.

viewers

Recent

Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *